Derap langkah mengawali hari ini, menuju kampusku Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Guratan bahagia jelas nampak pada senyumku kini, aku sungguh bersyukur Rabb telah memberikan kesempatan tuk berada disini, menimba ilmu merajut asa. 07.03 saja aku sudah sampai di masjid kampusku, aku memang begitu senang berada di masjid, pesona menenangkannya buatku tertarik. Seusai ibadah dhuha aku memilih duduk bersandar ke tembok, memperhatikan sekitar. Hanya ada beberapa orang yang juga mengerjakan sholat dhuha, ada juga yang sedang berkutat dengan tugasnya, dan ada yang….., hmmm aku jadi mengingat ini. Sekumpulan akhwat yang sedang mengumpul saling bercerita.
Flash back.
“Udah berapa lembar kamu nis?” tanyaku pada si putih Annisa, ia tak menjawab karena masih bertilawah di tengah ayat.
“Nisa mah udah banyak tau teh, dia mah dari pagi ge udah tilawah, pas kita lagi ngerjain tugas Fisika dari Bu Zaimul itu.” Timpal Tiar sambil menoleh kearah ku. Aku memang biasa dipanggil dengat sebutan teteh, teh ui, bukan karena umurku yang lebih tua dari mereka namun sejak aku berhijrah ke arah yang lebih baik, teman-teman kelasku sepakat untuk memanggil teh ui.
“hari ini pembinaan Al Qur’an kan teh?” Tanya Ai padaku, aku mengangguk tanda mengiyakan ucapannya.
Dan Agnia hanya tersenyum simpul melihat pembicaraan kami.
Kami memang bukan anggota Rohis, tapi kami punya visi kuat tuk terus memperbaiki diri. Aku begitu ingat visi kami semua adalah “be sholihah”, mantap bukan? J maka itu kami rajin ikut Pembinaan Al Qur’an yang diadakan disekolah, walau kami baru belajar istiqomah di penghujung tahun, di akhir kelas XII SMA.
Bimbel makin merekatkan kita, tak jarang belajar bareng kita lakukan. Ujian Nasional tinggal 3 bulan lagi, kesibukan nampak pada Annisa. Ya, Dia adalah yang paling riweuh dari kita kalau masalah pelajaran, perfeksionis. Tak ingin ada nilai jelek tercantum pada kertas penilaiannya. “nilai itu pentin teteh.” Katanya bernada menasehatiku yang masih saja sibuk berdiskusi dengan Ai di tengah pelajaran matematika.
Kami selalu bersama, makan bekal bersama, istirahat bersama bahkan kami sering mengisi waktu luang tuk tilawah bersama di mushola sekolah. Kami selalu bersaing sportif dalam berbagai hal, saling menyemangati, menasehati, mendukung dan sebagainya. Kami pun sering bersama mencari ilmu, misalnya saja kisah ini.
Aku punya catatan di FB yang menarik loh untuk dibaca.” Seru Agnia kepada kami yang sedang dudukbersender di lantai masjid.
“apa? Coba bacakan.” kata Tiar menyampaikan saran.
“ Wanita sholihah itu lebih baik dari dunia dan seisinya” Agnia membacakan judulnya.
“wah seru tuh, lanjutkan Agni.” Kata ku sebelum kami benar-benar menyimak apa yang dia sampaikan.
Begitulah kami, saling berbagi. Apaun kan kami jadikan pelajaran berharga diwaktu yang singkat ini. Kami benar-benar sadar sebentar lagi kami belum tentu dapat satu universitas lagi, walau tiada absen doa kami tuk dapat kembali bersama kelak.
Kami semua ingin sama-sama kembali disatu universitas, merajut harapan tuk kembali ke visi kami semula, sholihah.
“semoga kita satu universitas ya teh,” kata Ai mendayu seraya memelukku.”
“iya, aku gak mau pisah dengan kalian.” Agnia menimpal.
Kami semua berpelukkan, aku tak mampu menahan bendungan rasa, aku menyayangi mereka semua. Aku hanya menggangguk tak mengatakan sepatah kata apapun, agar mereka tak sedih. Bukan tak ingin bicara namun aku tak mampu sampaikan rasa sayang ini pada mereka, mereka berharga untukku.
Ujian sebentar lagi, bimbel tiada absen kami ikuti dengan penuh harap pada sang Illahi, kami pun berdiskusi tentang rencana kedepan kami saat mengikuti ujian kelak.
“kalau ada bocoran ujian, kita harus gimana tuh teh?” Ai mengawali pembicaraan kami di waktu istirahat.
Tiar yang sedang membaca buku lantas menutupnya dan menatap kearah aku dan Ai.
“ya, kita harus tetep jujur lah, iya gak teh?”
Aku mengangguk, ku tau ada kekhawatiran pada diri mereka, aku pun merasa hal yang sama namun, aku tak mampu memperlihatkan dihadapan mereka, bisa-bisa mereka tambah loyo.
“iya, Ai masa kita ikut-ikutan kaya gitu sih? Ngapain atuh cape-cape belajar.” Annisa melihat kearah Ai yang duduk disebelahku.
“mending kita berdiskusi saja bada ashar di mushola. Kita pikirkan semua. Gimana temen-temen?”
Kita sepakat atas ide Agnia yang begitu solutif untuk permasalahan kita.
“tumben Agnia nyambung. Hehehe.” Tiar menggoda.
“iya atuh, Nikita Gonzales. Hehehe.” Agnia menimpal. Pecah tawa kita saat itu.
UJIAN NASIONAL
O7.30-10.00, 19 April 2012
Bahasa Indonesia
10.00 saja kita sudah keluar kelas. Seperti biasa kami berkumpul tuk menegakkan sholat dhuha.
Kami sedikit belapang dada, soal tadi tak begitu sulit, kami semua optimis kami mampu lulus. Walau, godaan syaitan begitu kuat tapi itu tak meruntuhkan iltizam kami semua.
26 Mei 2012
Dwi Purwitasari
261120156777
Mohon maaf, anda tidak lulus dalam SNMPTN UNDANGAN PTN. Tetap semangat!!
Terumpah tangis kami berenam. Allah tidak menakdirkan salah satu pun dari kami yang masuk Universitas Negeri. Kini, kami pun berpisah ruang dan jarak. Sudah begitu minim komunikasi antar kita.
Senja disore semakin jingga dan hendak menenggelamkan diri.
Seperti hati ini yang tenggelam rindu akan kisah kita
Aku merindumu karenaNya, karena visi kita dulu
Yang kuat berakar
Tapi tak kutemui diri kalian wahai ukhti sholihah pada diri-diri yang lain
Tak ada senyum atas kepolosan Agnia, kelembuatan Ai, semangatnya Tiar atau pintarnya Annisa
Tak ada lagi diskusi yang berujung pecahnya tawa
Semua tlah terpisah kawan
Aku kembali mengingat kalian di senja indah ini
Semoga jingganya sampaikan rasa rindu yang menumpuk begitu banyak ini.
Agar rasaku sampai pada lubuk hatimu
Agar kita sama-sama lagi mengingat ini, perjuangan kita.
Semoga Allah, Rabb Maha Baik ini melindungi kalian dalam segala aktivitas.
Mencintai kalian, seperti cintanya ku pada kalian
Aaahh.. cukup. Aku tak mampu lagi berkata
Karena memori ini, bungkamkan lisan ini hingga kelu terasa
Aku pun beranjak bangkit dari tempat duduk setelah do’a rabithah ku lantunkan sambil membayangkan wajah teduh mereka. Tetesan tangis dipelupuk mata ku usap perlahan, dan rindu telah tersampaikan lewat barisan kata yang telah rampung kini. karena ku hanya ingin kembali ingatan memori tentang keteguhan hati kita dahulu, yang ku harap kan terus berdiri kokoh hingga kini. :) aamiin. salam untuk imanmu disana.
Kota hujan, 12 Januari 2013
Teh Ui, yang merindu kalian.


teteh.. kangennn...
BalasHapus