“Saat cinta datang ia ukirkan 2 rasa sekaligus: bahagia dan sakit” petikkan kata yang sering Anna sebutkan kepada teman-teman terdekatnya. Ya, sebut saja namanya Anna. Ia siswi SMA kelas XII di salah satu SMA terkenal di kotanya. Anna baru saja mengalami virus “galau” yang kini banyak orang sebut-sebut, virus yang lumayan berpengaruh terhadap produktivitasnya sebagai remaja.
Flash back ..:)
Jika mengenal Anna yang dulu mungkin kau takkan menyangka yang ada
dihadapanmu kni adalah Anna yang dulu kau kenal, ya Anna yang senang
berdandan modis, rame, periang, aktif dan tak suka dikekang. Keadaannya
kini bak seseorang yang di make over oleh keadaan. Berubah itu yang
kurasa. Kini ia jauh lebih manis dngan busana muslimah yang rapi,
kata-kata yang dituturkannya tak seasal ceplos dulu dan kini ia sudah
meninggalkan dunia pacaran yang ia bilang sungguh buatnya menyesal.
Namun kita takkan terus membahas aibnya yang sudah ia tinggalkan, naman
bagaimana ia bisa jadi seperti sekarang ini. “masa depanku tak boleh
hancur, dan ku tau Allah lah yang akan buat hidupku di masa depan jadi
baik, maka itu ku harus ikuti segala perintahNya termasuk berhenti
pacaran” kata-kata terakhir yang ia bilang sebelum memutuskan hubungan
dengan pacar terakhirnya yang terbilang harmonis selama ini.
Di pertengahan Agustus 2011, ia baru menemukan cinta yan sesungguhnya,
cinta Sang Illahi. Ia di tuntun oleh seorang lelaki sholih yang
membuatnya mengenal dan mencintai Tuhannya, membimbingnya hingga kini.
Sebut saja dia Abdullah, lelaki manis itu telah menyulap kegelapan yang
dulu Anna rasakan saat berpacaran dulu, dengn mengubahnya menjadi cahaya
terang yang setia menemani langkahnya dalam jalan lurus in.
Selama
9 bulan menapaki jalan keistiqomahan ini ternyata sejalan dengan
perasaan yang tumbuh dalam dada. Entah apa yan buatnya mencinta, namun
ia selalu katakan bahwa Abdullah adalah cintanya yang selalu ia
munajatkan dalam untaian doa. Ia jalani hari dengna senyum yang selalu
tersungging dalam bibirnya. Namun di suatu hari yang tak pernah ia
inginkan, ia tau bahwa cintanya tak berbalas dan kini hanya harapan semu
yang ia rasakan. Seperti fatamorgana yang janjikan kesejukkan namun
ternyata hanya buaian mimpi yang tak bertepi.
Selama
satu pekan di penghujung tahun ia jauh dan bersedih. Terngiang apa yang
ia pikirkan atas Abdullah yang tak mencintanya. Perih, sesak, kecewa
yang ada di raut wajah itu kini, gambarkan betapa kecewanya ia dalam
perjalanan cinta nan melelahkan ini. Laa Tahzan kata yang terus
kuatkannya dalam galau, sepertinya mampu memberinya senyum di lautan
lukanya. Dan 6 bulan sudah perih itu ia simpan dalam hati, tak ada yang
tau akan perih ini. Ya, gadis ini memang ceria, jadi takan ada saorang
pun yang menyangka ia adalah si pemendam perih.
Namun
kutau ia bukan jiwa yang pantang menyerah, ia tetap mengunggu harapan
semu itu hingga bertahun-tahun. Anna kini berusia 21 tahun dan ia masih
setia akan cinta yang ia tau tak pernah berbalas itu.
Seperti
siang hari tersamabar petir, hatinya hancur melihat undangan yang di
berikan oleh Annisa, sahabat kuliahnya. “Anna sayang, kuatkan hatimu ya,
mungkin ini jawaban atas doamu slama ini bahwa Abdullah bukanlah
pemilik tulang rusuk mu” ucap Annisa menguatkan hati yang telah
berkeping-keping itu. Namun Anna yang ceria tetaplah menjawab seperti
biasa, ia sodorkan senyum menjawab omongan Annisa seraya memeluknya.
Dalam hati Anna sudah tak berbentuk, kepingan hati itu rasanya sudah
tak mungkin ia tata kembali, tenggelam ia dalam tangis pilu sambil
memegang undangan itu. Bulan depan, Juni 2015 Abdullah menikah dengan
seorang akhwat pilihan hatinya, dan itu bukan Anna.
Anna tetaplah periang, ia terus mensyukuri segala Qada dan QadarNya dan kini ia terus menari seraya merajut asa.
“sayang, shalat tahud dulu yuk” bangunkannya dalam mimpi akan
kenangannya. Dan kini, ia telah bahagia meski bukan dngan Abdullah sang
pilihan hatinya, tapi dengan seorang ikhwan yang selalu mendukungnya
kala ia jatuh..
Kisah ini sadarkan kita bahwa takdirNya kan jauh leih baik di banding rencana kita J keep istiqomah J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar