Senin, 14 Januari 2013

Gadis Ceria Pemendam Perih


“Saat cinta datang ia ukirkan 2 rasa sekaligus: bahagia dan sakit” petikkan kata yang sering Anna sebutkan kepada teman-teman terdekatnya. Ya, sebut saja namanya Anna. Ia siswi SMA kelas XII di salah satu SMA terkenal di kotanya. Anna baru saja mengalami virus “galau” yang kini banyak orang sebut-sebut, virus yang lumayan berpengaruh terhadap produktivitasnya sebagai remaja.
            Flash back ..:)
            Jika mengenal Anna yang dulu mungkin kau takkan menyangka yang ada dihadapanmu kni adalah Anna yang dulu kau kenal, ya Anna yang senang berdandan modis, rame, periang, aktif dan tak suka dikekang. Keadaannya kini bak seseorang yang di make over oleh keadaan. Berubah itu yang kurasa. Kini ia jauh lebih manis dngan busana muslimah yang rapi, kata-kata yang dituturkannya tak seasal ceplos dulu dan kini ia sudah meninggalkan dunia pacaran yang ia bilang sungguh buatnya menyesal.
            Namun kita takkan terus membahas aibnya yang sudah ia tinggalkan, naman bagaimana ia bisa jadi seperti sekarang ini. “masa depanku tak boleh hancur, dan ku tau Allah lah yang akan buat hidupku di masa depan jadi baik, maka itu ku harus ikuti segala perintahNya termasuk berhenti pacaran” kata-kata terakhir yang ia bilang sebelum memutuskan hubungan dengan pacar terakhirnya yang terbilang harmonis selama ini.
            Di pertengahan Agustus 2011, ia baru menemukan cinta yan sesungguhnya, cinta Sang Illahi. Ia di tuntun oleh seorang lelaki sholih yang membuatnya mengenal dan mencintai Tuhannya, membimbingnya hingga kini. Sebut saja dia Abdullah, lelaki manis itu telah menyulap kegelapan yang dulu Anna rasakan saat berpacaran dulu, dengn mengubahnya menjadi cahaya terang yang setia menemani langkahnya dalam jalan lurus in.
Selama 9 bulan menapaki jalan keistiqomahan ini ternyata sejalan dengan perasaan yang tumbuh dalam dada. Entah apa yan buatnya mencinta, namun ia selalu katakan bahwa Abdullah adalah cintanya yang selalu ia munajatkan dalam untaian doa. Ia jalani hari dengna senyum yang selalu tersungging dalam bibirnya. Namun di suatu hari yang tak pernah ia inginkan, ia tau bahwa cintanya tak berbalas dan kini hanya harapan semu yang ia rasakan. Seperti fatamorgana yang janjikan kesejukkan namun ternyata hanya buaian mimpi yang tak bertepi.
            Selama satu pekan di penghujung tahun ia jauh dan bersedih. Terngiang apa yang ia pikirkan atas Abdullah yang tak mencintanya. Perih, sesak, kecewa yang ada di raut wajah itu kini,  gambarkan betapa kecewanya ia dalam perjalanan cinta nan melelahkan ini. Laa Tahzan kata yang terus kuatkannya dalam galau, sepertinya mampu memberinya senyum di lautan lukanya. Dan 6 bulan sudah perih itu ia simpan dalam hati, tak ada yang tau akan perih ini. Ya, gadis ini memang ceria, jadi takan ada saorang pun yang menyangka ia adalah si pemendam perih.
            Namun kutau ia bukan jiwa yang pantang menyerah, ia tetap mengunggu harapan semu itu hingga bertahun-tahun. Anna kini berusia 21 tahun dan ia masih setia akan cinta yang ia tau tak pernah berbalas itu.
Seperti siang hari tersamabar petir, hatinya hancur melihat undangan yang di berikan oleh Annisa, sahabat kuliahnya. “Anna sayang, kuatkan hatimu ya, mungkin ini jawaban atas doamu slama ini bahwa Abdullah bukanlah pemilik tulang rusuk mu” ucap Annisa menguatkan hati yang telah berkeping-keping itu. Namun Anna yang ceria tetaplah menjawab seperti biasa, ia sodorkan senyum menjawab omongan Annisa seraya memeluknya.
            Dalam hati Anna sudah tak berbentuk, kepingan hati itu rasanya sudah tak mungkin ia tata kembali, tenggelam ia dalam tangis pilu sambil memegang undangan itu. Bulan depan, Juni 2015 Abdullah menikah dengan seorang akhwat pilihan hatinya, dan itu bukan Anna.
            Anna tetaplah periang, ia terus mensyukuri segala Qada dan QadarNya dan kini ia terus menari seraya merajut asa.
            “sayang, shalat tahud dulu yuk” bangunkannya dalam mimpi akan kenangannya. Dan kini, ia telah bahagia meski bukan dngan Abdullah sang pilihan hatinya, tapi dengan seorang ikhwan yang selalu mendukungnya kala ia jatuh..
            Kisah ini sadarkan kita bahwa takdirNya kan jauh leih baik di banding rencana kita J keep istiqomah J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar