Saya sedikit ingin berbagi tulisan, yang semoga bermanfaat sekaligus
menjadi renungan kita semua. Afwan jika nanti tulisan ini tak enak
dibaca karna gaya bahasanya yang belum enak untuk dinikmati. Tapi semoga
esensi dalam tulisan ini masih dapat dipetik. Aamiin...
Dakwah? Kata yang sering kali kita dengar dan bahkan sudah tidak
asing lagi dalam keseharian kita semua “aktivis dakwah”. Saya mencoba
menekankan dibagian ini tentang muhasabah tentang kelurusan dakwah kita
saat ini. tidak ada niatan dalam tulisan ini bahwa saya merasa paling
baik, itu tidak. Tapi ada kewajiban yang harus saya sampaikan untuk
sekedar mengamalkan dalam sut Al-ashr “Menasehati dalam kebenaran dan
kesabaran”. Yah, itu untuk sekedar mengingatkan, lebih khusus untuk
diri saya pribadi.
Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da'i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda'wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa
(Dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998)
Izinkan saya menyampaikan bait kata, sebagai penyambung do’a dan harapan diatas.
Kerana mimpi telah terlahir, begitupun do’a telah teruntai,
Menyerukan virus kebaikan agar dapat membumi
Mampu dan sudah kah kita bertanya pada diri ini!
Sejauh mana hati kita telah berhimpun?
Sejauh mana kaki kita telah bergerak?
Sejauh mana ucapan kebaikan telah menyebar?
Sejauh mana harta kita telah terkorbankan?
Sejauh mana apa yang telah kita perbuat?
Apalah arti kita dalam barisan dakwah ini. jika kita tak
mampu berhimpun, tak mampu bergerak, tak mampu menyebarkan virus
kebaikan dan tak mampu berkorban?
Lalu bagaimanakah mimpi yang pernah ada akan tercapai? Dan bagaimankah dengan do’a yang terlah teruntai?
Saudaraku, saatnya kita sadar pada amanah dakwah ini.
Aslih Nafsaka Wad’u Ghoiruka
Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menilai perjalanan dakwah kita,
yang sudah berjalan begitu lama hingga saat ini. kalau kita melihat
dakwah kita hari ini dan lalu. Ada sebuah pertanyaan besar dalam benak
saya saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dakwah saat ini?
Mengalami kemundurun atau kah kemajuan? Ini teramat penting kita ketahui
sebagai parameter sejauh mana dakwah telah berjalan dan sejauh mana
kontribusi yang telah kita buat?
“Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” ”
Kalimat di atas menjadi sesuatu hal yang menarik bila mana kita
mencoba menganalisa dakwah yang telah lama berjalan dan yang ada saat
ini. sehingga kita bisa menilai sejauh mana efek dakwah saat ini
menyebar. Dan ini menjadi bagian penting terhadap perkembangan dakwah
itu sendiri khususnya pada aktivis dakwah yang mengemban amanah dakwah
ini. Semoga akan banyak ibroh yang dapat diambil nantinya sebagai bahan
perbaikan kita semua.
Kita sadar dan tahu, perjalanan dakwah yang lalu. Perjalanan dakwah
yang tidak terlepaskan dari semangat perjuangan dan mimpi-mimpi besar
qiyadah-qiyadah kita dan pembesar dakwah ini “tarbiyah”. Perjuangan
menyebarkan virus-virus kebaikan diberbagai lini kehidupan. Baik dari
sekala kecil hingga sekala besar, bagaimana merubah dari suatu keadaan
yang buruk menuju keadaan yang lebih baik.
Kita dapat menilai bagaimana dakwah dahulu. Dan tanyakanlah pada
pendiri dakwah ini, bagimana perjungan dakwah lalu? Apakah sama dengan
apa yang kita rasakan saat ini?
Saya hanya mampu menilai dari kisah-kisah yang pernah lahir, dan itu
cukup membuat hati ini bergetar dan hanya mampu mengatakan
“Subhanallah”. dakwah hanya menjadi minoritas, sedikit sekali yang ada
pada jalan ini. Hingga menjadi mungkin halaqoh/liqo/mentoring yang kita
kenal saat ini sulit untuk dicari walaupun ada hanya sedikit saja. Tidak
hanya itu, kendala perjalanan dakwah dahulu kian membuat hati kita
tersentuh. Kita bisa melihat dari sebuah tontonan yang menggugah hati
kita semua “sang murobbi”, bagaimana tergambar jelas dakwah dahulu.
Ada kata-kata yang menyentuh hati saya dari Salah satu Ucapan Ust.
Rahmat Abdullah dalam film Sang Murobbi ini, yang merupakan tulisan
beliau pula dalam tulisan “untukmu kader dakwah”, bagian Militansi:
Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki
militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa
bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa
misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan
ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.
Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh
jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di
nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal
sekian-sekian”.
Sungguh menggugah hati rasanya bila mendengar dan membaca kalimat
diatas. Apa yang bisa kita rasakan saat ini dalam dakwah kita adalah
wujud dari “Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” para qiyadah-qiyadah kita. Dan hasilnya kita bisa merasakan
dakwah sudah terasa amat sangat nikmat kita rasakan, sudah banyak
halaqoh/liqo/mentoring, dan sudah makin banyaknya orang yang berada
dalam dakwah ini.
Ini menjadi bukti “Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” ” para
qiyadah kita yang terdahulu, dan suksesnya dakwah saat ini adalah hasil
kerja keras dan mimpi-mimpi besar para pendahulu kita, bukan KITA.
Lalu apa yang terjadi saat ini? apa mimpi-mimpi besar kita? Lantas
Apa yang telah kita buat untuk dakwah ini? efek apa yang telah kita
berikan untuk dakwah ini?
Penekanan kata “Kita” ini sengaja saya tekankan. Ini menjadi bahan
intropeksi diri bagi kita semua, banyak diantara kita tertidur dalam
mengemban amanah dakwah ini. dakwah yang dirasakan kini sudah teramat
nikmat. Membuat kita terlalu banyak beristirahat dan sedikit sekali
pegerakan yang kita lakukan, hingga sedikit pula hasil yang kita
rasakan. Bahkan mungkin tidak ada sama sekali “stagnan”.
Terkadang kita terlalu asik merasakan dakwah yang terasa nikmat saat ini, seharusnya “Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” ” para
pendahulu dahulu, menjadikan estafet bagi kita semua untuk mewujudkan
mimpi-mimpi besar yang lalu bukan kita hanya menjadi penikmat dakwah
yang tidak melakukan apa-apa.
Jangan sampai dakwah ini mengalami kemunduran, dakwah ini harus
mengalami kemajuan. Itu semua sejauh mana kita memahami tujuan utama
dalam dakwah dan sejauh mana konstribusi yang kita berikan. Setiap
diantara kita memiliki mimpi, mimpi akan kemaslahatan umat. Jangan
bangga dengan keadaan saat ini. saatnya merekayasa dakwah ini dengan
mimpi-mimpi yang telah ada, sehingga setiap perjuangan yang telah ada
menjadi semangat kita untuk mewujudkannya. Bukan lagi kita sebagai
penikmat tapi jadikanlah sebagai pecentus. Sehingga nanti, ketika anak
cucu kita lahir mampu dan bisa merasakan semangat perjuangan kita saat
ini. sehingga lahirlah generasi-genasi yang kita harapkan.
Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan
para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang
usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak
pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang.
Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba
bercermin pada sejarah. Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah
bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam
Alqur’an.
“ Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah
kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini
Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi
orang-orang yang beriman.”(QS. 11:120).
Orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah
yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik
ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang
salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah
(kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal
yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita.
Allahualam Bissawwab....
Semoga tulisan sedikit ini mengandung manfaat. Kebenaran mutlak
datangnya dari Allah dan kekurangan dari diri saya pribadi. Syukron...
Afwan Jiddan.
Sumber Gambar: muanhinata.multiply.com
Penulis: Ramadhan Aziz (Melangkah dan Berkarya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar