Sabtu, 19 Januari 2013

SEJARAH DAN SEMANGAT PERJUANGAN

Saya sedikit ingin berbagi tulisan, yang semoga bermanfaat sekaligus menjadi renungan kita semua. Afwan jika nanti tulisan ini tak enak dibaca karna gaya bahasanya yang belum enak untuk dinikmati. Tapi semoga esensi dalam tulisan ini masih dapat dipetik. Aamiin...

Dakwah? Kata yang sering kali kita dengar dan bahkan sudah tidak asing lagi dalam keseharian kita semua “aktivis dakwah”. Saya mencoba menekankan dibagian ini tentang muhasabah tentang kelurusan dakwah kita saat ini. tidak ada niatan dalam tulisan ini bahwa saya merasa paling baik, itu tidak. Tapi ada kewajiban yang harus saya sampaikan untuk sekedar mengamalkan dalam sut Al-ashr “Menasehati dalam kebenaran dan kesabaran”.  Yah, itu untuk sekedar mengingatkan, lebih khusus untuk diri saya pribadi.

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da'i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda'wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa

(Dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998)
Izinkan saya menyampaikan bait kata, sebagai penyambung do’a dan harapan diatas.

Kerana mimpi telah terlahir, begitupun do’a telah teruntai,
Menyerukan virus kebaikan agar dapat membumi
Mampu dan sudah kah kita bertanya pada diri ini!
Sejauh mana hati kita telah berhimpun?
Sejauh mana kaki kita telah bergerak?
Sejauh mana ucapan kebaikan telah menyebar?
Sejauh mana harta kita telah terkorbankan?
Sejauh mana apa yang telah kita perbuat?
Apalah arti kita dalam barisan dakwah ini. jika kita tak mampu berhimpun, tak mampu bergerak, tak mampu menyebarkan virus kebaikan dan tak mampu berkorban?
Lalu bagaimanakah mimpi yang pernah ada akan tercapai? Dan bagaimankah dengan do’a yang terlah teruntai?
Saudaraku, saatnya kita sadar pada amanah dakwah ini.
Aslih Nafsaka Wad’u Ghoiruka

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menilai perjalanan dakwah kita, yang sudah berjalan begitu lama hingga saat ini.  kalau kita melihat dakwah kita hari ini dan lalu. Ada sebuah pertanyaan besar dalam benak saya saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dakwah saat ini? Mengalami kemundurun atau kah kemajuan? Ini teramat penting kita ketahui sebagai parameter sejauh mana dakwah telah berjalan dan sejauh mana kontribusi yang telah kita buat?

“Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” ”

Kalimat di atas menjadi sesuatu hal yang menarik bila mana kita mencoba menganalisa dakwah yang telah lama berjalan dan yang ada saat ini. sehingga kita bisa menilai sejauh mana efek dakwah saat ini menyebar.  Dan ini menjadi bagian penting terhadap perkembangan dakwah itu sendiri khususnya pada aktivis dakwah yang mengemban amanah dakwah ini. Semoga akan banyak ibroh yang dapat diambil nantinya sebagai bahan perbaikan kita semua.

Kita sadar dan tahu, perjalanan dakwah yang lalu. Perjalanan dakwah yang tidak terlepaskan dari semangat perjuangan dan mimpi-mimpi besar qiyadah-qiyadah kita dan pembesar dakwah ini “tarbiyah”. Perjuangan menyebarkan virus-virus kebaikan diberbagai lini kehidupan. Baik dari sekala kecil hingga sekala besar, bagaimana merubah dari suatu keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih baik.

Kita dapat menilai bagaimana dakwah dahulu. Dan tanyakanlah pada pendiri dakwah ini, bagimana perjungan dakwah lalu? Apakah sama dengan apa yang kita rasakan saat ini?

Saya hanya mampu menilai dari kisah-kisah yang pernah lahir, dan itu cukup membuat hati ini bergetar dan hanya mampu mengatakan “Subhanallah”. dakwah hanya menjadi minoritas, sedikit sekali yang ada pada jalan ini. Hingga menjadi mungkin halaqoh/liqo/mentoring yang kita kenal saat ini sulit untuk dicari walaupun ada hanya sedikit saja. Tidak hanya itu, kendala perjalanan dakwah dahulu kian membuat hati kita tersentuh. Kita bisa melihat dari sebuah tontonan yang menggugah hati kita semua “sang murobbi”, bagaimana tergambar jelas dakwah dahulu.

Ada kata-kata yang menyentuh hati saya dari Salah satu Ucapan Ust. Rahmat Abdullah dalam film Sang Murobbi ini, yang merupakan tulisan beliau pula dalam tulisan “untukmu kader dakwah”, bagian Militansi:

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.

Sungguh menggugah hati rasanya bila mendengar dan membaca kalimat diatas. Apa yang bisa kita rasakan saat ini dalam dakwah kita adalah wujud dari “Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” para qiyadah-qiyadah kita. Dan hasilnya kita bisa merasakan dakwah sudah terasa amat sangat nikmat kita rasakan, sudah banyak halaqoh/liqo/mentoring, dan sudah makin banyaknya orang yang berada dalam dakwah ini.

Ini menjadi bukti “Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” ” para qiyadah kita yang terdahulu, dan suksesnya dakwah saat ini adalah hasil kerja keras dan mimpi-mimpi besar para pendahulu kita, bukan KITA.

Lalu apa yang terjadi saat ini? apa mimpi-mimpi besar kita? Lantas Apa yang telah kita buat untuk dakwah ini? efek apa yang telah kita berikan untuk dakwah ini?

Penekanan kata “Kita” ini sengaja saya tekankan. Ini menjadi bahan intropeksi diri bagi kita semua, banyak diantara kita tertidur dalam mengemban amanah dakwah ini. dakwah yang dirasakan kini sudah teramat nikmat. Membuat kita terlalu banyak beristirahat dan sedikit sekali pegerakan yang kita lakukan, hingga sedikit pula hasil yang kita rasakan. Bahkan mungkin tidak ada sama sekali “stagnan”.

Terkadang kita terlalu asik merasakan dakwah yang terasa nikmat saat ini, seharusnya “Semangat dan visi misi dakwah “Militansi” ” para pendahulu dahulu, menjadikan estafet bagi kita semua untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar yang lalu bukan kita hanya menjadi penikmat dakwah yang tidak melakukan apa-apa.

Jangan sampai dakwah ini mengalami kemunduran, dakwah ini harus mengalami kemajuan. Itu semua sejauh mana kita memahami tujuan utama dalam dakwah dan sejauh mana konstribusi yang kita berikan. Setiap diantara kita memiliki mimpi, mimpi akan kemaslahatan umat. Jangan bangga dengan keadaan saat ini. saatnya merekayasa dakwah ini dengan mimpi-mimpi yang telah ada, sehingga setiap perjuangan yang telah ada menjadi semangat kita untuk mewujudkannya. Bukan lagi kita sebagai penikmat tapi jadikanlah sebagai pecentus. Sehingga nanti, ketika anak cucu kita lahir mampu dan bisa merasakan semangat perjuangan kita saat ini. sehingga lahirlah generasi-genasi yang kita harapkan.

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang.
Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam Alqur’an.

“ Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”(QS. 11:120).

Orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita.

Allahualam Bissawwab....

Semoga tulisan sedikit ini mengandung manfaat. Kebenaran mutlak datangnya dari Allah dan kekurangan dari diri saya pribadi. Syukron... Afwan Jiddan.


Sumber Gambar: muanhinata.multiply.com

Penulis: Ramadhan Aziz (Melangkah dan Berkarya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar