Saya
suka banget sama bayi, anak-anak, rasanya mereka punya pelet paling ampuh yang
buat saya jadi gabetah kalau ngediemin bayi. Pasti saja saya ajak main, saya tanya,
cubit, cium atau gendong, pokoknya interaksi dengan bayi itu. Mau perempuan,
laki-laki, gendut, imut, kulit sawo matang, atau putih bermata sipit, saya
selalu suka. Mereka memiliki magnet luarbiasa yang menyihir perasaan saya
menjadi bahagia seketika. Rasanya sayaaang banget, tersimpan beribu harapan
akan masa depan dimatanya yang berbinar.
Semua orang tua
pasti setuju kalau anak yang baru nongol di dunia merupakan sumber kebahagiaan,
setelah lahir, pasti banyak orang yang kemudian menengok dan tersenyum lepas
seraya mendoakan saat melihat untuk pertama kalinya makhluk asing yang sebelumnya
mendekam dalam perut bundanya selama kurang lebih 9 bulan 10 hari. Orang-orang
dewasa itu nampak amat mencintai bayi mungil yang baru bisa menangis kala
merasakan sesuatu.
Dan kita semua
dahulu adalah seorang bayi mungil, yang meliuk-liuk merengek minta minum saat
haus, yang menggerak-gerakkan tangan saat ingin digendong, yang gabisa
melakukan apa-apa. #rapopo. Hehe. So, kita semua dulu adalah sumber
kebahagiaan, yang dicintai oleh semua orang. Kita menjadi sosok yang
diperebutkan dengan tingkah lucu dan perkembangan yang selalu dinanti. Duh,
senengnya kalau ingat kita dulu begitu.
Eeiitsss, tapi
semua itu tidak berlaku sekarang. Yuk, kita ambil cermin kemudian tanya, “who
am I?” apakah sekarang kita masih menjadi bayi mungil itu? Nampaknya sudah
tidak. Kita yang kini berusia 20 tahun misalnya, telah sedikitnya mengalami 7.120
hari telah yang telah mempengaruhi sifat alami kita. Dicintai dan sumber
kebahagiaan. Lingkungan telah meorehkan noktah dan warna beragam pada diri,
membentuknya menjadi makhluk warna-warni*kata Devi, teman saya.Piss dev. Hehe. Ya,
diri kita yang sekarang mungkin telah bermertamofosis bukan menjadi sebuah
kupu-kupu yang indah namun mungkin menjadi monster yang ditakuti karna sifat
buruk yang melekat. Sifat alami diri serasa memudar, tertutupi oleh kesombongan,
sifat yang menyebalkan, rasa malas, ketidaksantunan, kejutekan, dan sifat-sifat
lainnya. Kita jadi pribadi yang menyebalkan, dibenci, dijauhi dan tidak
diharapkan atau bahkan mungkin jadi pribadi yang disumpah serapahi oleh orang
lain. Astagfirullah.. fagfirlana ya Robb.
Well, tapi tenang.
Walau langit mendung dan kelam tapi kita harus tetap tau bahwa matahari masih
menggantung dilangit, ia hanya tertutupi oleh kabut dan awan hitam yang
ganggguuuu banget. Jadi mataharinya masih ada dan kita masih punya kesempatan
besar untuk kembali melihatnya bersinar. J begitu pula dengan diri kita, kita punya sifat alami yang dicintai
dan sumber kebahagiaa. Dan artinya kita bisa balik ke kondisi itu. But, what
I have to do?
Dari buku
BacaKilat yang saya baca pekan lalu, Juni Anton, sang penulis bilang
kalau kita bisa reset ulang pikiran kita. Apa yang telah terbangun salama ini
dan itu salah bias kita reskrontruksi ulang. Caranya? Pertama, konsentrasi. Masuk
ke kondisi genius. #lho? apa sih wi! Heheheh.. bukan bukan itu.
Kita pake rumus, learnàunlearnàrelearn. Jadi misalnya
kita yang sombong itu bukan sifat asli kita, tapi kita belajar (learn) dari
lingkungan sehingga kita bisa jadi sombong, nah sombong yang sudah jadi karakter
kita bisa ko kita hilangkan dengan unlearn sombong, tanamkan di pikiran
kita bahwa sombong telah terhapus sempurna tentu juga ditunjang dengan
usaha-usaha yang membuat sombong itu enyah dalam diri kita. Next, relearn,
ya kita mempelajari kembali sifat-sifat yang seharusnya kembali ke diri kita,
belajar kembali menjadi pribadi yang dicintai. Sifat-sifat yang ditanamkan
pastilah sifat-sifat baik yang membuat orang lain suka.
Namun yang paling
penting kita harus terus tamankan pada diri akan kalimat positif sebagai
pengingat diri, “saya adalah pribadi yang dicintai” sehingga itu membuat
kita selalu hati-hati dalam melangkah dan kembali saat warna-warna kelam berupaya
merusak dan membawa kita pergi jauh dari sifat alami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar