Sabtu, 02 Mei 2015

Jangan Marah, ya

Jangan Marah, ya :-)

Kemenangan hakiki adalah bukan mengalahkan orang lain karna itu diluar dari dirinya. Dan yang sebenarnya adalah mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Jika kita nervous, maka semua juga akan buyar. Maka yang paling sulit adalah menguasai diri.
Dan puncak dari kekuatan adalah menguasai diri ketika marah. Karna saat kita marah, semua jadi kacau.
Nasihat para ahli ilmu, jangan mengambil keputusan apapun ketika kamu sedang marah. Pertimbangan-peryimbangan menjadi tidak penting.

Kita bisa menjadi heran saat sadar apa yang kita lakukan saat marah. Memberikan kerugian berkali-kali lipat dari sebab kemarahan.
Kisah ayah yang marah kepada kita.

Jangan melakukan aksi, ditunda keputusan saat marah.

Jauhi hal-hal yang membuat kita marah. Misalnya, kita jadi merasa gak enak hati saat bangun kesiangan. Maka kita buat alarm agar kita bisa bangun awal dan menghindari dari rasa marah.

Tips yang selanjutnya untuk menghindari marah adalah dengan mengucapkan.
"A'udzubillahiminasy syaiton nirrojiim."
Aku berlindung kepada ALLAH dari syaitan yang terkutuk.
Karena kemarahan merupakan bisikan syaitan.

Dan keutungan besar saat kita sebenarnya memiliki kekuasaan untuk marah tapi kita memilih untuk menahan diri dari kemarahan maka Allah akan membalas sesuatu yang amat besar kepada kita.

Nasihat yang diberikab Nabi kepada salah satu sahabat. "Laa Taghdob." dan diulangi beberapa kali. Artinya marah adalah hal yang harus benar-benar kita perhatikan.

Maka itu mari kita menjadi oramg-orang yang sabar karena orang lain menyukai sifat sabar. Dan sabar mendapatkan pahala yang tak terhingga.

Aamiin. :)Keep Istiqomah :-)

Ahad, 3 Mei 2015
9.44

Senin, 13 April 2015

UN = Ujian Kejujuran

UN=Ujian Kejujuran

Kemarin malam sekitar pukul 9 tidak biasanya Aisyah sms bernada amat sopan. ".....Kami harap teteh bersedia datang...."
Yap, sesuai permintaannya aku hadir tadi pagi ke sekolah pukul 6.30. Dia memintaku untuk memimpin doa bersama sebelum Ujian Nasional dimulai. Ya, Hari ini 13 April 2015 bertepatan dengan Ujian nasional SMA.
Ada sekitar 11 orang yang datang, hanya ada satu wajah yang asing katanya dia temannya Mira(salah satu dari adik kelasku), selebihnya memang adik kelas yang biasa mengaji rutin di sekolah.
Ada beberapa yang wajahnya sendu, beberapa yang lain mengeluhkan takut, beberapa sisanya malah ketawa-ketawa. Hehehe
Tak banyak yg kusampaikan sebelum doa bersama, namun ada beberapa yang menjadi fokus perhatianku. Yang pertama, bahkan, sekitar 95% dari siswa SMA hari ini memilih untuk menyontek dengan alasan yang bermacam-macam. Yang paling "mulia"karna takut mengecewakan orang tua. Duh gusti.. Padahal jika kita nyontek dengan alasan yang melanggar aturan Allah walaupun niatnya semulia itu, mana bisa kita mampu membahagiakan kedua orang tua kita. Yang ada malah menjadi penghambat kita sendiri masuk syurga. Nauzubillahimindzalik.

Yang kedua, Ujian Nasional ini sebetulnya bukan hanya tentang sejumlah soal yg kita jawab dengan LJK, namun Ujian Kejujuran yang Allah selenggarakan dengan ribuan bala malaikat yang menjadi pengawasnya. MasyaAllah. Menjadi seleksi siapakah hamba Allah yang mampu melewati ujian ini.

Dek, tetaplah kuat. Yakin bahwa Allah akan bersamai dengan orang-orang yang berusaha teguh dengan prinsip yang benar. Ingatlah. Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha. Gak ada ujian yang melampaui batas kemampuan kita. Yakin. yakin. yakin!!!

Semangat ya, adik-adikku sayang. Teteh menyayangi kalian.
Innallaha ma'ana :-)

Jumat, 03 April 2015

Surat Cinta Untuk Kak Dhira

Bogor, 3 April 2015.

Dear Kak Dhira.
Assalamualaikum Wr Wb.
Kak, apa kabar? Sehatkah?
Sudah lama juga ya kita tidak bertemu. Hehe. Hari ini aku sedang ingin sekali nulis surat buat kakak. Rindu sepertinya.
Kak, aku bersyukur kepada Allah karena Dia telah mempertemukan kita di OWOP ini. Keluarga kecil yang memberikan banyak sekali warna padaku. Hehe. Aku ingat sekali, first time kita ketemu itu waktu ada acara GK Fest yang OWOP buat stand buat pertama kalinya juga. Nah, disana aku melihat sosok tinggi besar dengan kulit putih dan senyum yang merekah datang menghampiriku. Saat itu kakak wangi banget. hehe. Nah, saat itulah aku kenal kakak.

Kak, setelah hampir 4bulan ini kenal, aku merasa telah belajar banyak dari kakak. Kak Dhira yang dewasa, ngemong, cerdas, baik, ceria, humble, dan amat merangkul ini membuat aku nyaman. Amat nyaman. Makasih ya, Kak. :-)
Walau aku ini bukan siapa-siapa. Bukan kaya ka Salsa yang kuliah di Malaysia, bukan Ka Rizkachab yang sahabat kaka di Jerman, bukan kak Sani yang jago bikin puisi, bukan juga kak Echa yang suaranya bagus, bukan Kak Rahma yang jago bikin coklat, atau Deby yang jago fiksi, atau mba Laras yg pinter sajak-sajakan. Aku memang cuma wanita biasa.

Aku Ui yang dengan segala kekurangannya yang hanya mampu berharap segala yang terbaik untuk kak Dhira.

Oya,Selamat Milad ya kak.
Maaf suratnya telat :-)
Semoga segera menjemput Kesatria impian yg Allah ridhoi.:-) Mencipta Cinta,Mencita Surga.Aamiin.
Love u, kak.
Semoga makin dicintai Allah :-) Aamiin Allahumma Aamiin :-)

Udah ya, dahhh.:-)

Wassalamualaikum Wr Wb.
Ui, Putri Tulips

Selasa, 24 Maret 2015

Gimana Kalau Gak Ada OWOP?

Gimana Kalau Gak Ada OWOP?

Aku ini mahluk warna-warni. Dengan segala rupanya. Kadang aku bicara berjam-jam lantas diam tanpa bahasa. Atau bergelora amat semangat kemudian loyo seperti kehabisan energi. Pokoknya penuh warna, dan layaknya teka-teki; tak mudah di tebak.

Maka tak banyak yang mampu tahan denganku.Rasanya mereka tidak "betah" dengan manusia super ramai ini. Aku mungkin dianggap riweuh at semacamnya.

Hingga akhirnya di Maret 2014 aku berkenalan via grup Whatsapp dengan komunitas yang memberikan setitik cahaya. Namun, kemudian hilang beberapa saat.

Bagai mati suri, komunitas kepenulisan yang mereka menamainya OWOP ini kembali lahir. Bukan setitik cahaya,bahkan cahanyanya benderang. Dengan formasi baru dan kemasan yang menarik rasanya aku memiliki rumah baru untuk berkarya.

Bayangkan saja, sehari kamu bisa menemukan 1000+ chat messages di grup ini yang isinya tawa, tangis,curhat, perjodohan, politik, permainan gaje, dan banyak lagi. Yang jelas seramai diriku.

So, Gimana kalau ga ada OWOP?
Makhluk warna-warni ini akan kehilangan warnanya, pudar bersama kejenuhan yang membunuh.

Trimakasih OWOP,
Love u

Senin, 23 Maret 2015

Ku Titipkan Hatiku

Allah.. Hari ini aku sendu.
Bagai kelabu, hatiku jua serupa. Aku rasa hampa. Gerimis menemani duduk soreku di teras rumah, aku memandang langit yg menurunkan butir-butir penyejuk jiwa. Ternyata hujan bukan hanya terjadi dilangit sana,namun juga di pipiku. Bahkan lebih deras.

Aku menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan hati.
"Apapun masalahmu, solusinya adalah berdamai dengan hatimu sendiri." Quotes Darwis Tere Liye pagi ini di fanspagenya yg terasa ngena banget. Ya, aku mencoba berdamai dengan hatiku. Allah.. Astagfirullah

Ku pejamkan mata, berkonsentrasi penuh pada apa yg menjadi permasalahanku hari ini.

"Cinta itu bagai penyakit. Mengapa?karena ia bisa menjadikan air menjadi beku, api menjadi air, dan hidup menjad mati." Menurut Al Hazm di buku Diatas Bumi Cinta.

Ya, cinta.. Hati ini sedang rapuh karna ia. Cinta yg belum waktunya menyekik keinginan, membutakan jiwa, melumpuhkan logika.

Maka, hari ini..
Allah, hamba telah serahkan semua perasaan hamba kepadaMu, seluruh hati hamba. Berikanlah pada waktu yg tepat kelak pada ia yg bertaqwa, pejuang dan kesatria. Aamiin.

Diantara rasa dan asa,
23 Maret 2015
16.22

Minggu, 15 Maret 2015

5 Tahun Lagi, Aku Jadi Apa?

5 Tahun Lagi, Aku Jadi Apa?

Untuk menulis ini tentu sebelumnya aku harus memikirkan lebih dalam tentang sebuah mimpi. Apa yang hendak aku lambungkan, yang menjadi arah dan tujuanku selanjutnya.
Tertulis, di Proposal mimpiku bahwa tahun 2020, aku bersama suamiku kelak akan mendirikan sebuah yayasan yang bergerak dibidang kemasyarakatan. Mimpi ini terinspirasi dari sebuah kampung wisata di Cinangneng, Bogor yang memilih untuk mengembangkan masyarakatnya dibidang obat-obatan tradisional. Suluruh warga di kampung itu aktif dan turut serta dalam mengembangkan dan secara konsisten menjaga kualitas dari produk yg dihasilkan.
Nah, aku ingin buat semacam itu kelak. Menjadi sumber kebermanfaatan yg dirasakan baik secara khusus untuk aku, keluarga, dan masyarakat namun juga juga secara umum bagi masyarakat Indonesia.
Membuat satu yayasan yang bukan hanya mengembangkan kemampuan dan potensi masyarakat, meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan namun juga peningkatan semangat beribadah kepada Allah. Menjadikan masyarakat madani yang seharusnya.
Lalu apa saja yang sejak dini harus Dwi siapkan dan lakukan?

1. Dekatkan pada Sang Pemilik Mayapada. Dialah yg memiliki segalanya termasuk tabir masa depan. We are planner, He is determiner.
2. Memperbaiki diri. Dikatakan dalam sebuah buku Fiqih Dakwah, Aslih Nafsaka Wad'u Ghairaka. Perbaiki diri dan ajaklah orang lain. Caranya dengan terus meningkatkan kapasitas diri, tiap pekan harus ada judul buku baru yang dibaca. Buku apa saja. Memberikan nutrisi yang cukup kepada otak agar senantiasa mampu berfikir jernih.
3. Memperluas jaringan. Ini poin penting selanjutnya yang masih terus menjadi PR. Relasi membuatmu mudah, koneksi mendekatkanmu pada tujuan.
4. Action. Sejak dini aku mulai belajar untuk mulai bekerja dan berkarya. Seorang pemimpin itu orang yang mampu berfikir, bekerja melebihi kotak dirinya sendiri. Nah, kalau berfikir untuk diri sendiri saja kita tidak mampu, bagaimana kita mampu mengelola orang lain.

Seperti mengayuh sepeda, tiap usaha sekecil apapun akan terus membawa kita kepada arah yang kita tuju. Tinggal seberapa keras usaha kita mengayuh, semain keras semakin cepat sampai. InsyaAllah. :-)

Minggu, 02 Maret 2014

Kita Adalah Pribadi yang Dicintai



                Saya suka banget sama bayi, anak-anak, rasanya mereka punya pelet paling ampuh yang buat saya jadi gabetah kalau ngediemin bayi. Pasti saja saya ajak main, saya tanya, cubit, cium atau gendong, pokoknya interaksi dengan bayi itu. Mau perempuan, laki-laki, gendut, imut, kulit sawo matang, atau putih bermata sipit, saya selalu suka. Mereka memiliki magnet luarbiasa yang menyihir perasaan saya menjadi bahagia seketika. Rasanya sayaaang banget, tersimpan beribu harapan akan masa depan dimatanya yang berbinar.
            Semua orang tua pasti setuju kalau anak yang baru nongol di dunia merupakan sumber kebahagiaan, setelah lahir, pasti banyak orang yang kemudian menengok dan tersenyum lepas seraya mendoakan saat melihat untuk pertama kalinya makhluk asing yang sebelumnya mendekam dalam perut bundanya selama kurang lebih 9 bulan 10 hari. Orang-orang dewasa itu nampak amat mencintai bayi mungil yang baru bisa menangis kala merasakan sesuatu.
            Dan kita semua dahulu adalah seorang bayi mungil, yang meliuk-liuk merengek minta minum saat haus, yang menggerak-gerakkan tangan saat ingin digendong, yang gabisa melakukan apa-apa. #rapopo. Hehe. So, kita semua dulu adalah sumber kebahagiaan, yang dicintai oleh semua orang. Kita menjadi sosok yang diperebutkan dengan tingkah lucu dan perkembangan yang selalu dinanti. Duh, senengnya kalau ingat kita dulu begitu.
            Eeiitsss, tapi semua itu tidak berlaku sekarang. Yuk, kita ambil cermin kemudian tanya, “who am I?” apakah sekarang kita masih menjadi bayi mungil itu? Nampaknya sudah tidak. Kita yang kini berusia 20 tahun misalnya, telah sedikitnya mengalami 7.120 hari telah yang telah mempengaruhi sifat alami kita. Dicintai dan sumber kebahagiaan. Lingkungan telah meorehkan noktah dan warna beragam pada diri, membentuknya menjadi makhluk warna-warni*kata Devi, teman saya.Piss dev. Hehe. Ya, diri kita yang sekarang mungkin telah bermertamofosis bukan menjadi sebuah kupu-kupu yang indah namun mungkin menjadi monster yang ditakuti karna sifat buruk yang melekat. Sifat alami diri serasa memudar, tertutupi oleh kesombongan, sifat yang menyebalkan, rasa malas, ketidaksantunan, kejutekan, dan sifat-sifat lainnya. Kita jadi pribadi yang menyebalkan, dibenci, dijauhi dan tidak diharapkan atau bahkan mungkin jadi pribadi yang disumpah serapahi oleh orang lain. Astagfirullah.. fagfirlana ya Robb.
            Well, tapi tenang. Walau langit mendung dan kelam tapi kita harus tetap tau bahwa matahari masih menggantung dilangit, ia hanya tertutupi oleh kabut dan awan hitam yang ganggguuuu banget. Jadi mataharinya masih ada dan kita masih punya kesempatan besar untuk kembali melihatnya bersinar. J begitu pula dengan diri kita, kita punya sifat alami yang dicintai dan sumber kebahagiaa. Dan artinya kita bisa balik ke kondisi itu. But, what I have to do?
            Dari buku BacaKilat yang saya baca pekan lalu, Juni Anton, sang penulis bilang kalau kita bisa reset ulang pikiran kita. Apa yang telah terbangun salama ini dan itu salah bias kita reskrontruksi ulang. Caranya? Pertama, konsentrasi. Masuk ke kondisi genius. #lho? apa sih wi! Heheheh.. bukan bukan itu.
            Kita pake rumus, learnàunlearnàrelearn. Jadi misalnya kita yang sombong itu bukan sifat asli kita, tapi kita belajar (learn) dari lingkungan sehingga kita bisa jadi sombong, nah sombong yang sudah jadi karakter kita bisa ko kita hilangkan dengan unlearn sombong, tanamkan di pikiran kita bahwa sombong telah terhapus sempurna tentu juga ditunjang dengan usaha-usaha yang membuat sombong itu enyah dalam diri kita. Next, relearn, ya kita mempelajari kembali sifat-sifat yang seharusnya kembali ke diri kita, belajar kembali menjadi pribadi yang dicintai. Sifat-sifat yang ditanamkan pastilah sifat-sifat baik yang membuat orang lain suka.
            Namun yang paling penting kita harus terus tamankan pada diri akan kalimat positif sebagai pengingat diri, “saya adalah pribadi yang dicintai” sehingga itu membuat kita selalu hati-hati dalam melangkah dan kembali saat warna-warna kelam berupaya merusak dan membawa kita pergi jauh dari sifat alami.